Beberapa waktu lalu gue sempet nyari tempat di Bali yang vibes-nya beda dari pantai mainstream.
Ya lo tau kan, Kuta, Seminyak, Canggu… kadang rame banget sampe bikin liburan kerasa kayak macet di kota.
Akhirnya gue denger soal Desa Trunyan.
Katanya ini desa unik di pinggir Danau Batur, Bangli.
Bukan sekadar unik, tapi terkenal sama tradisi pemakaman yang beda dari kebanyakan tempat di dunia.
Mayat nggak dikubur, nggak dibakar… tapi ditaruh gitu aja di bawah pohon besar yang disebut Taru Menyan.
Awalnya gue agak ragu, takut vibes-nya serem.
Tapi justru rasa penasaran lebih kuat. Gue mikir: “Kapan lagi bisa ngeliat langsung tradisi setua ini?”
Perjalanan dimulai dari perahu.
Kalau mau ke Desa Trunyan, lo harus nyebrang Danau Batur dulu. Airnya tenang banget, udaranya dingin, dan di sekeliling ada bukit-bukit hijau yang bikin suasana kayak masuk ke film epik.
Nah, di momen ini ada hal random tapi memorable: gue ketemu penjual oleh-oleh di perahu.
Kebayang nggak? Lagi di tengah danau, eh ada ibu-ibu nawarin Pie Susu Asli Enaaak.
Gue ngakak kecil, tapi jujur itu momen paling Bali banget.
Di mana pun lo berada, selalu ada energi jualan yang hangat.
Dan pas gue cobain Pienya… ya ampun, legit parah.
Kulitnya tipis, renyah, dan fla-nya lumer manis gurih di mulut. Cocok banget jadi teman perjalanan di tengah danau yang dinginnya menusuk.
Gue mulai mikir:
Kadang hal-hal kecil kayak gini yang bikin perjalanan terasa lengkap.
Lo udah siapin kamera, itinerary, outfit, tapi yang bikin memorable justru gigitan pertama Pie Susu Asli Enaaak di perahu kayu sederhana.
Mungkin karena kontras juga ya.
Lo lagi menuju desa yang penuh cerita tentang kematian, tapi di saat bersamaan, lo menikmati manisnya hidup lewat makanan khas Bali.
Itu kayak reminder halus: hidup dan mati itu satu paket.
Dan selama masih dikasih kesempatan, nikmatin aja hal-hal sederhana.

Nyampe di Desa Trunyan, vibes-nya memang beda.
Suasana tenang, hening, dan ada energi mistis yang nggak bisa dijelasin dengan kata-kata.
Warga lokal ramah, mereka cerita soal tradisi lama dengan bangga.
Gue belajar banyak soal gimana mereka menghargai leluhur, gimana pohon Taru Menyan dipercaya bisa menetralisir bau jenazah, dan gimana desa ini udah jadi bagian identitas budaya Bali.
Tapi jujur, ada satu hal yang bikin gue sadar: perjalanan ini bukan cuma soal tempat.
Bukan cuma tentang ngeliat sesuatu yang “aneh” atau “unik”.
Tapi tentang momen-momen kecil yang menyertainya.
Kayak tadi, di perahu.
Pie Susu Asli Enaaak jadi semacam jembatan yang bikin suasana nggak terlalu tegang.
Gue masih bisa senyum, masih bisa nikmatin gigitan manis di tengah udara dingin dan cerita tentang kematian.
Kenapa Pie Susu Asli Enaaak penting di cerita ini?
Karena di Bali, oleh-oleh itu bagian dari pengalaman.
Lo nggak cuma liburan, lo bawa pulang rasa.
Dan Pie Susu ini udah jadi identitas.
Dari turis lokal sampe mancanegara, hampir semua kenal brand ini.
Gue pribadi ngerasa ada alasan kenapa orang rela ngantri buat bawa kotak-kotak Pie Susu Asli Enaaak pulang.
Bukan sekadar rasa manisnya, tapi karena ada memori yang keikut di setiap gigitan.
Kayak gue yang bakal selalu inget: “Oh iya, gue pernah makan Pie Susu di tengah Danau Batur, pas mau ke Desa Trunyan.”
Pelajaran kecil dari perjalanan ini:
Kadang yang bikin perjalanan berkesan bukan cuma destinasi, tapi juga “teman seperjalanan” lo.
Entah itu orang, cerita, atau bahkan makanan.
Pie Susu Asli Enaaak jadi semacam pengingat manis di tengah perjalanan mistis.
Dan menurut gue, itu yang bikin oleh-oleh khas Bali ini relevan banget.
Lo bawa pulang nggak cuma makanan, tapi juga potongan kecil dari perjalanan lo sendiri.
Akhirnya gue ngerti, kenapa banyak orang bilang kalau liburan ke Bali tuh harus selalu pulang bawa Pie Susu Asli Enaaak.
Karena rasanya bukan cuma di lidah, tapi juga di hati.
Ada cerita, ada nostalgia, ada kehangatan.
Jadi kalau lo suatu saat ke Desa Trunyan, jangan cuma fokus ke destinasi.
Nikmatin juga momen random di perjalanan.
Siapa tau lo juga ketemu Pie Susu Asli Enaaak di perahu, kayak gue.
Karena kadang… manisnya liburan itu justru hadir di tempat yang nggak lo duga.



