Pie Susu Bali dan Kisah Setiap Perantau yang Rindu Rumah

Beberapa minggu terakhir ini, gue sering kepikiran hal-hal kecil yang muncul tiba-tiba. Hal-hal yang sebenarnya simple, tapi nancep banget. Kayak momen ketika lo lagi buka tas oleh-oleh dan nemuin sekotak Pie Susu Asli ENAAAK yang aromanya langsung nyeletuk, “Eh, udah lama ya gak pulang?”

Anehnya, cuma gara-gara sepotong pie susu tipis, gue bisa kebawa ke memori-memori lama yang bahkan gue kira sudah hilang. Tapi ya memang gitu kan… kadang yang paling kecil justru yang paling nyentuh.

Gue gak tau kapan tepatnya, tapi makin ke sini gue makin ngerti kenapa banyak perantau selalu bawa pie susu sebagai oleh-oleh. Atau lebih tepatnya, kenapa pie susu selalu jadi simbol kecil tentang pulang. Karena jujur aja, kehidupan kita sekarang kan rasanya kayak dikejar-kejar terus. Jadwal padat. Deadline numpuk. Drama hidup gak selesai-selesai. Dan di tengah semuanya itu, hal sederhana seperti makanan rumahan bisa jadi semacam pegangan emosional yang kita gak sadar kita butuhin.

Gue punya temen yang kerja di luar negeri. Setiap kali dia balik ke Indonesia, hal pertama yang dia cari bukan pantai, bukan wisata, bukan penginapan mewah. Tapi pie susu. Beneran. Gue sempat ngeledek dia, “Lo jauh-jauh terbang 6 jam cuma buat makan pie susu?” Tapi dia cuma ketawa dan bilang, “Ini bukan soal makanannya, Bro. Ini soal rasanya waktu gue masih tinggal di Bali.”

Dan gue ngerti. Banget.

Karena rasa itu, entah gimana, punya cara buat narik kenangan lama naik ke permukaan. Kayak waktu lo pulang sekolah dan ibu nyodorin camilan favorit lo. Atau momen lo duduk di warung pinggir jalan sambil nunggu hujan reda. Ada perasaan aman yang cuma muncul dari hal-hal yang sederhana.

Dan Pie Susu Asli ENAAAK punya vibe itu. Manisnya gak berlebihan. Teksturnya lembut. Pinggirannya renyah. Rasanya jujur. Bahkan baunya aja kayak bikin hati relax dikit. Kayak bilang, “Santai, hidup gak harus buru-buru.”

Kadang gue mikir… mungkin para perantau beli banyak pie susu bukan karena mereka takut kehabisan. Tapi karena setiap potongnya itu kayak potongan kecil dari rumah yang bisa mereka bawa ke mana-mana.

Lo tau kan perasaan itu?

Perasaan ketika lo lagi jauh dari rumah, terus tiba-tiba ada sesuatu yang bikin lo inget masakan ibu. Atau aroma yang familiar. Atau suara yang bikin dada hangat. Santai. Lembut. Tenang.

Beberapa orang nemuin itu di lagu. Beberapa lewat foto keluarga. Dan beberapa lagi… lewat pie susu.

Gue sempet ngobrol juga dengan salah satu orang yang kerja di toko oleh-oleh. Katanya, ekspresi perantau yang beli pie susu itu selalu sama. Kayak ada campuran antara senyum kecil, excited, tapi juga rindu yang diem-diem nongol. Mereka cerita, “Ini buat temen kantor gue.” Tapi tatapannya biasanya lebih jauh dari itu. Kayak mereka lagi ngobrol sama memori yang cuma mereka sendiri yang ngerti.

Dan menurut gue, gak ada yang salah dari itu. Justru itu indah.

Karena hidup kan memang isinya perjalanan. Kita pergi jauh, belajar banyak hal, ketemu orang baru, kerja habis-habisan. Tapi pada akhirnya… kita tetap butuh sesuatu untuk ngingetin kita tentang siapa diri kita. Dari mana kita datang. Dan apa yang bikin kita merasa lengkap.

Pie Susu Asli ENAAAK, dengan segala kesederhanaannya, punya cara unik buat masuk ke bagian hati yang kadang udah lama kita tutup. Bukan karena dramatis. Bukan karena lebay. Tapi karena rasanya jujur. Gak maksa jadi apa-apa. Gak sok modern. Gak penuh gimmick. Dan mungkin itu kenapa dia terus jadi oleh-oleh favorit dari Bali.

Karena dia bukan cuma makanan.

Dia adalah cerita.

Cerita tentang pulang.

Cerita tentang seseorang yang duduk di bandara sambil nunggu pesawat, mikirin siapa yang akan dikasih pie susu nanti.

Cerita tentang ibu di rumah yang udah siap nunggu, ngomel-ngomel dikit kalau anaknya pulang terlalu malam, tapi senyum begitu lihat kotak oleh-oleh itu.

Cerita tentang sahabat yang cuma bisa ketawa waktu lo bilang, “Gue gak bawa apa-apa, cuma pie susu.” Karena mereka tau… itu bukan “cuma”.

Makin dewasa, gue makin sadar kalau hidup itu ternyata bukan tentang cari hal-hal besar yang bikin kita bahagia. Tapi ngumpulin hal-hal kecil yang bikin hati kita nyaman.

Dan jujur aja, ada saat-saat dimana gue cuma butuh duduk, buka kotak pie susu, terus makan pelan-pelan sambil nginget masa-masa dimana hidup lebih sederhana. Masa-masa ketika semua hal terasa mungkin. Ketika rumah hanya sejauh langkah kaki. Ketika rindu gampang diredakan oleh suara ombak dan semilir angin Bali.

Sekarang, pie susu itu jadi semacam jendela kecil. Kayak portal ke masa yang bikin gue ngerasa utuh.

Kalau lo perantau, lo pasti ngerti.

Kalau lo pernah kangen rumah, lo pasti ngerti.

Dan kalau lo pernah makan Pie Susu Asli ENAAAK, lo pasti ngerti kenapa rasa itu susah digantikan apa pun.

Kadang, pulang itu gak harus fisik.

Kadang, pulang itu cuma butuh sepotong pie susu yang manisnya pas, wanginya lembut, dan rasanya… rasa rumah.

Karena ternyata, rindu bisa diredakan dengan cara yang sangat sederhana.

Dan itulah kenapa pie susu selalu punya tempat di hati banyak orang.
Karena, tanpa banyak bicara, dia bilang satu hal penting:

“Ada rumah yang selalu nunggu kamu, kapan pun kamu siap pulang.”

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *