Beberapa waktu lalu gw lagi duduk di pinggir pantai di Bali.
Bukan di beach club mahal, bukan juga di tempat yang fancy banget. Cuma duduk santai di kursi kayu sederhana, kaki nyaris nyentuh pasir, sambil nunggu matahari turun pelan ke garis laut.
Di depan gw ada dua hal sederhana.
Sepotong pie susu Bali.
Sama secangkir kopi hitam lokal yang masih ngebul.
Aneh ya.
Kadang momen yang paling berkesan justru datang dari hal yang sederhana banget.
Bukan dari makanan mahal.
Bukan dari restoran yang rame di Instagram.
Tapi dari cemilan kecil yang dimakan di waktu yang pas.
Waktu itu gw sempet mikir.
Kenapa ya pie susu selalu jadi oleh-oleh yang paling sering orang bawa pulang dari Bali?
Padahal kalau dipikir-pikir, bentuknya simpel.
Diameternya kecil.
Isinya cuma custard manis di atas kulit pie tipis.
Tapi entah kenapa, setiap orang yang pernah ke Bali hampir pasti pernah makan pie enaaak.
Bahkan ada yang sampai bawa sekotak dua kotak buat keluarga di rumah.
Gw rasa jawabannya bukan cuma karena rasanya enak.
Tapi karena pie susu itu punya kemampuan aneh:
dia bisa “ngingetin suasana”.
Coba bayangin.
Sore di Bali itu beda.
Anginnya gak terlalu panas.
Langit mulai berubah warna.
Orang-orang mulai santai.
Ada yang jalan di pantai.
Ada yang duduk di pinggir tebing.
Ada juga yang cuma nongkrong sambil ngobrol santai.
Dan di momen kayak gitu, cemilan kecil tiba-tiba terasa jauh lebih nikmat.

Pie susu misalnya.
Kulitnya renyah tipis.
Begitu digigit, bagian tengahnya lembut dan manisnya gak berlebihan.
Pas banget dimakan sambil minum kopi.
Ngomongin kopi, Bali juga punya banyak kopi lokal yang sebenarnya underrated.
Banyak orang datang ke Bali fokusnya ke pantai atau nightlife.
Padahal di daerah pegunungan seperti Kintamani, kopi tumbuh subur dengan karakter rasa yang unik.
Biasanya kopinya punya sedikit rasa fruity dan aroma yang ringan.
Kalau diminum sore-sore, apalagi sambil nunggu sunset, rasanya beda.
Ada sensasi hangat yang pelan-pelan muncul.
Dan ketika kopi itu ketemu pie susu, kombinasi rasanya jadi menarik.
Manis dari pie.
Pahit lembut dari kopi.
Kayak dua karakter yang saling ngelengkapin.
Beberapa turis yang gw temui bahkan punya ritual kecil.
Mereka beli pie susu dulu sebelum pergi cari spot sunset.
Kadang di pantai.
Kadang di tebing.
Kadang cuma di balkon hotel.
Lalu pie itu dibuka pelan-pelan, dimakan sambil nunggu langit berubah warna.
Hal kecil, tapi sering jadi momen yang diingat.
Dan lucunya, setelah pulang dari Bali, banyak orang yang kangen justru sama hal-hal sederhana kayak gini.
Bukan cuma pemandangannya.
Tapi juga rasa pie susu yang dimakan waktu matahari hampir tenggelam.
Gw pernah ngobrol sama seorang wisatawan yang lagi beli oleh-oleh.
Dia bilang sesuatu yang menarik.
Katanya, “Kalau gw bawa pie susu pulang, rasanya kayak bawa sedikit Bali ke rumah.”
Awalnya gw kira dia bercanda.
Tapi setelah dipikir-pikir, ada benarnya juga.
Makanan itu sering jadi pengingat tempat.
Begitu kita makan lagi di rumah, memori lama langsung muncul.
Suasana pantai.
Suara ombak.
Angin sore yang pelan.
Semua kayak ikut balik.
Makanya gak heran kalau pie susu asli Bali seperti Pie Susu Asli ENAAAK selalu jadi pilihan banyak orang untuk oleh-oleh.
Karena selain rasanya lembut dan manisnya pas, pie ini juga punya kualitas yang konsisten.
Kulitnya tipis dan renyah.
Isi custardnya lembut.
Dan yang paling penting, rasanya tetap terasa “Bali”.
Banyak pelanggan bahkan bilang, mereka sengaja beli lebih banyak karena satu kotak biasanya habis lebih cepat dari rencana.
Awalnya niatnya buat oleh-oleh.
Tapi di perjalanan pulang malah dimakan sendiri.
Yang menarik, pie susu itu sebenarnya fleksibel banget.
Bisa dimakan pagi dengan teh hangat.
Bisa jadi teman kopi siang hari.
Dan yang paling cocok, tentu saja untuk cemilan sore sambil nunggu sunset.
Di Bali, momen sunset memang punya daya tarik sendiri.
Langit berubah dari biru jadi oranye.
Lalu perlahan jadi ungu gelap.
Dan di tengah suasana itu, cemilan kecil seperti pie susu terasa jauh lebih spesial.
Akhirnya gw sadar satu hal.
Banyak hal di Bali yang sebenarnya sederhana.
Pantainya.
Anginnya.
Makanannya.
Tapi justru dari kesederhanaan itu muncul pengalaman yang susah dilupain.
Pie susu mungkin cuma cemilan kecil.
Tapi ketika dimakan di waktu yang tepat, dia bisa jadi bagian dari kenangan perjalanan seseorang.
Kenangan tentang sore yang tenang.
Tentang kopi hangat.
Tentang matahari yang perlahan tenggelam di ujung laut.
Dan mungkin juga… tentang alasan kecil kenapa orang selalu ingin kembali ke Bali



