Beberapa waktu lalu gue lagi buka lemari dapur.
Niat awalnya cuma mau cari camilan.
Nggak ada yang spesial.
Cuma sore biasa setelah hari yang cukup panjang.
Lalu mata gue berhenti di satu kotak pie susu asli enaaak yang masih tersimpan rapi.
Seketika gue senyum sendiri.
Lucu ya.
Padahal itu cuma makanan.
Bukan tiket pesawat.
Bukan foto liburan.
Bukan video perjalanan.
Tapi entah kenapa, begitu melihatnya, pikiran gue langsung melayang ke Bali.
Ke pantai yang pernah gue datangi.
Ke jalanan yang pernah gue lewati.
Ke suasana santai yang rasanya sulit ditemukan di tengah rutinitas sehari-hari.
Dan saat itu gue sadar satu hal.
Mungkin pie susu memang bukan sekadar jajanan.
Kadang dia adalah tiket kecil untuk kembali ke Bali.
Kenapa Kita Bisa Merindukan Sebuah Tempat?
Kalau dipikir-pikir, manusia itu unik.
Kita sering mengira yang kita rindukan adalah sebuah lokasi.
Padahal sering kali bukan tempatnya.
Melainkan perasaan yang pernah kita rasakan di sana.
Bali punya kemampuan aneh untuk meninggalkan jejak seperti itu.
Ada orang yang rindu suara ombaknya.
Ada yang rindu matahari terbenamnya.
Ada yang rindu suasana paginya.
Ada juga yang rindu perasaan tenang yang muncul saat berada di sana.
Makanya tidak heran kalau banyak orang yang baru pulang beberapa hari sudah mulai membuka galeri foto dan berkata:
“Kayaknya pengen ke Bali lagi.”

Ternyata Rasa Bisa Menyimpan Kenangan
Dulu gue nggak terlalu percaya.
Masa sih makanan bisa memunculkan memori?
Tapi semakin sering mengalami sendiri, semakin gue paham.
Pernah nggak mencium aroma tertentu lalu langsung teringat masa kecil?
Atau mendengar lagu lama lalu langsung teringat seseorang?
Rasa juga bekerja dengan cara yang mirip.
Satu gigitan bisa membuka pintu kenangan yang sudah lama tersimpan.
Dan pie susu sering punya efek seperti itu bagi banyak orang yang pernah berkunjung ke Bali.
Oleh-Oleh yang Selalu Ikut Pulang
Ada alasan kenapa wisatawan hampir selalu mencari oleh-oleh sebelum meninggalkan Bali.
Bukan karena kewajiban.
Bukan juga karena takut ditagih teman kantor.
Tapi karena manusia punya kebutuhan untuk membawa pulang sesuatu dari pengalaman yang berkesan.
Kita ingin menyimpan sedikit bagian dari perjalanan.
Sedikit bagian dari suasana.
Sedikit bagian dari cerita.
Dan sering kali, oleh-oleh menjadi jembatan antara perjalanan yang sudah selesai dengan kenangan yang ingin tetap hidup.
Kenapa Pie Susu Selalu Jadi Pilihan?
Kalau diperhatikan, pilihan oleh-oleh di Bali itu banyak.
Sangat banyak.
Tapi pie susu tetap punya tempat khusus.
Mungkin karena rasanya yang akrab.
Mungkin karena mudah dinikmati semua usia.
Mungkin juga karena bentuknya sederhana.
Tidak berlebihan.
Tidak rumit.
Tapi justru di situlah kekuatannya.
Karena sesuatu yang sederhana sering kali lebih mudah diterima dan diingat.
Makanya banyak wisatawan yang awalnya membeli satu kotak.
Lalu kembali lagi membeli beberapa kotak tambahan.
Karena tiba-tiba teringat keluarga.
Teringat teman.
Teringat rekan kerja.
Dan akhirnya koper pun menjadi lebih penuh dari rencana awal.
Pie Susu Asli Enaaak dan Cerita yang Dibawa Pulang
Di Pie Susu Asli Enaaak, kami sering bertemu pelanggan yang datang dengan cerita yang hampir mirip.
Ada yang sedang menikmati hari terakhir liburannya.
Ada yang baru selesai mengunjungi berbagai tempat wisata.
Ada yang bahkan sudah terburu-buru mengejar jadwal penerbangan.
Tapi mereka tetap menyempatkan diri mencari oleh-oleh.
Karena mereka tahu ada orang-orang yang menunggu di rumah.
Ada keluarga yang ingin ikut merasakan sedikit cerita dari Bali.
Ada teman yang ingin mencicipi oleh-oleh khas Pulau Dewata.
Dan ada kenangan yang ingin tetap hidup meskipun perjalanan sudah selesai.
Kadang Yang Kita Cari Bukan Makanannya
Ini bagian yang paling menarik.
Banyak orang berpikir mereka membeli pie susu karena rasanya.
Padahal belum tentu.
Bisa jadi yang mereka cari adalah perasaan yang ikut datang bersamanya.
Perasaan saat menikmati matahari sore di Bali.
Perasaan saat berkendara tanpa terburu-buru.
Perasaan saat bangun pagi dan melihat langit yang cerah.
Perasaan saat hidup terasa sedikit lebih ringan.
Dan ketika pie susu itu dimakan kembali di rumah, semua memori itu perlahan muncul lagi.
Sebuah Gigitan Kecil, Sebuah Perjalanan Panjang
Ada alasan kenapa kenangan tidak selalu tersimpan dalam benda besar.
Kadang justru tersimpan dalam hal-hal kecil.
Dalam aroma.
Dalam rasa.
Dalam kebiasaan sederhana.
Sama seperti pie susu.
Bentuknya mungkin sederhana.
Tapi cerita yang dibawanya sering kali jauh lebih besar daripada ukurannya.
Karena di balik setiap kotak yang dibawa pulang, ada perjalanan.
Ada tawa.
Ada pengalaman.
Ada momen yang tidak ingin dilupakan.
Akhirnya gue paham kenapa banyak orang selalu mencari pie susu sebelum meninggalkan Bali.
Bukan semata-mata karena lapar.
Bukan juga karena sekadar membeli oleh-oleh.
Tapi karena mereka sedang membawa pulang sebagian kecil dari Bali.
Dan ketika suatu hari mereka membuka kotak itu kembali, mencicipi satu gigitan kecil, lalu tersenyum tanpa alasan yang jelas…
Mungkin itu bukan karena pie susunya.
Mungkin itu karena mereka baru saja melakukan perjalanan pulang ke Bali.
Meski hanya lewat sebuah rasa.



