Mengobati Rindu Suasana Canggu dengan Secangkir Kopi dan Pie Susu

Pernah nggak sih…

Lagi duduk sendirian di rumah.

Pagi masih biasa saja.

Kerjaan juga nggak terlalu berat.

Tapi entah kenapa, tiba-tiba kepikiran Bali.

Bukan karena lagi lihat promo tiket.

Bukan karena ada teman yang sedang liburan.

Bukan juga karena muncul video pantai di media sosial.

Tapi memang tiba-tiba kangen saja.

Dan anehnya, setiap kali rasa itu muncul, tempat pertama yang sering terlintas di kepala gue adalah Canggu.

Padahal Bali itu luas.

Tapi Canggu punya cara unik untuk bikin orang susah move on.

Kenapa Canggu Selalu Terasa Berbeda?

Awalnya gue pikir Canggu itu cuma kawasan pantai biasa.

Ternyata nggak.

Ada suasana yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Pagi hari terasa santai.

Sore hari terasa hangat.

Malam hari tetap hidup tanpa terasa terburu-buru.

Orang-orang berjalan lebih pelan.

Percakapan terasa lebih ringan.

Dan entah kenapa, waktu seperti bergerak sedikit lebih lambat.

Mungkin karena itulah banyak orang yang pulang dari Bali justru merindukan suasananya, bukan sekadar tempat wisatanya.

Kadang Yang Dirindukan Bukan Pantainya

Ini yang baru gue sadari.

Banyak orang bilang mereka rindu Bali karena pantainya.

Tapi kalau dipikir lebih dalam, mungkin bukan itu.

Yang dirindukan sering kali adalah perasaan saat berada di sana.

Perasaan saat duduk santai tanpa memikirkan pekerjaan.

Perasaan saat menikmati kopi tanpa terburu-buru.

Perasaan saat melihat matahari tenggelam sambil membiarkan pikiran beristirahat.

Dan perasaan seperti itu ternyata sulit ditemukan ketika sudah kembali ke rutinitas.

Ada Alasan Kenapa Kopi Selalu Menjadi Bagian dari Cerita

Kalau pernah menghabiskan waktu di Canggu, pasti tahu.

Kopi seperti menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di sana.

Bukan sekadar minuman.

Tapi bagian dari pengalaman.

Orang datang bukan hanya untuk minum.

Mereka datang untuk duduk.

Mengobrol.

Membaca buku.

Menulis ide.

Atau sekadar menikmati suasana.

Makanya ketika kembali ke rumah, secangkir kopi sering menjadi cara sederhana untuk menghadirkan kembali suasana yang pernah dirasakan.

Meski hanya beberapa menit.

Meski hanya dalam imajinasi.

Lalu Datanglah Pie Susu

Yang menarik, ada satu hal lain yang hampir selalu ikut pulang dari Bali.

Pie susu asli enaaak.

Awalnya terlihat sederhana.

Bahkan mungkin terlalu sederhana dibanding banyak oleh-oleh lainnya.

Tapi justru karena kesederhanaannya, pie susu mudah diterima siapa saja.

Rasanya ringan.

Tidak berlebihan.

Cocok dinikmati kapan saja.

Dan yang paling penting, selalu berhasil mengingatkan banyak orang pada Bali.

Gue sering melihat orang membuka kotak pie susu beberapa hari setelah pulang.

Lalu tiba-tiba mulai bercerita soal perjalanan mereka.

Tentang pantai yang dikunjungi.

Tentang tempat makan favorit.

Tentang sunset yang sempat mereka lihat.

Seolah pie susu menjadi tombol kecil yang mengaktifkan kembali kenangan.

Pie Susu Asli Enaaak dan Memori yang Ikut Hidup

Di Pie Susu Asli Enaaak, kami sering mendengar cerita yang hampir serupa.

Banyak pelanggan datang membeli oleh-oleh pada hari terakhir mereka di Bali.

Mereka ingin membawa pulang sesuatu.

Bukan hanya untuk keluarga.

Bukan hanya untuk teman.

Tapi juga untuk diri mereka sendiri.

Karena mereka tahu, beberapa hari setelah kembali ke rumah, rasa rindu itu biasanya mulai muncul.

Dan saat itulah satu kotak pie susu menjadi lebih dari sekadar camilan.

Ia berubah menjadi pengingat.

Pengingat bahwa mereka pernah menikmati hari-hari yang begitu santai di Pulau Dewata.

Ternyata Kenangan Bisa Disimpan Lewat Rasa

Dulu gue mengira kenangan hanya tersimpan dalam foto.

Atau video.

Ternyata tidak.

Kenangan juga bisa tersimpan dalam rasa.

Sama seperti sebuah lagu yang bisa membawa kita ke masa lalu.

Atau aroma tertentu yang mengingatkan pada seseorang.

Makanan juga punya kekuatan yang sama.

Dan mungkin itulah alasan kenapa oleh-oleh selalu punya tempat khusus.

Karena ia membantu kita menjaga hubungan dengan sebuah pengalaman yang pernah membuat kita bahagia.

Secangkir Kopi dan Sepotong Bali

Beberapa minggu lalu gue akhirnya paham.

Pagi itu gue membuat kopi.

Lalu mengambil satu pie susu dari kotak yang masih tersisa.

Tidak ada yang spesial sebenarnya.

Hanya pagi biasa.

Tapi setelah beberapa gigitan, pikiran gue kembali ke Canggu.

Ke jalan-jalan kecil yang ramai.

Ke suara ombak yang terdengar dari kejauhan.

Ke sore hari yang terasa begitu santai.

Dan untuk beberapa menit, rasanya seperti sedang berada di sana lagi.

Bukan secara fisik.

Tapi secara rasa.

Mungkin itu sebabnya banyak orang tidak pernah bosan membawa pulang pie susu dari Bali.

Karena yang mereka bawa sebenarnya bukan sekadar oleh-oleh.

Bukan sekadar jajanan.

Bukan sekadar makanan khas.

Yang mereka bawa adalah potongan kecil dari pengalaman yang pernah membuat mereka bahagia.

Dan ketika suatu hari rasa rindu pada Canggu datang tanpa permisi, terkadang yang dibutuhkan bukan tiket pesawat.

Cukup secangkir kopi hangat.

Sepotong Pie Susu Asli Enaaak.

Lalu biarkan kenangan membawa kita kembali ke Bali, meski hanya untuk sesaat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *