Ada satu momen waktu saya duduk di bandara Ngurah Rai, nunggu boarding balik ke Jakarta, sambil nenteng tas kertas berisi oleh-oleh.
Tas itu penuh. Ada keripik singkong rasa sambal matah, kaos tulisan “I love Bali”, dan tentu aja, satu kotak Pie Susu Enaaaak.
Tiba-tiba saya mikir.
Kenapa ya, dari semua oleh-oleh yang saya bawa, cuma pie susu yang rasanya kayak… punya nilai lebih?
Yang lain sekadar lucu, enak, atau khas. Tapi pie susu ini—entah kenapa—punya sensasi yang susah dijelasin.
Mungkin karena dia gak cuma mengisi perut, tapi juga memantik kenangan.
Pie susu Bali itu bukan sekadar camilan. Dia kayak cerita mini dari pulau Dewata yang dikemas manis, lalu dititipkan ke tangan orang-orang terkasih.
Dan dari situlah semuanya dimulai.
Saya pulang dari Bali dengan rasa penasaran.
Kenapa belum ada pie susu yang bener-bener dikemas dengan niat?
Yang gak cuma enak, tapi juga pantes jadi oleh-oleh elegan. Bukan yang dibungkus seadanya lalu ditumpuk di etalase toko bandara.
Saya mulai merancang ulang:
Gimana kalau pie susu itu bukan lagi sekadar camilan pasar, tapi jadi oleh-oleh premium khas Bali?
Yang bisa dibawa ke Jepang, ke Eropa, ke manapun—dan tetap bikin orang bilang:
“Wow… this is from Bali?”
Akhirnya, lahirlah Pie Susu Asli ENAAAK.
Bukan cuma soal rasa yang lembut dan manisnya pas, tapi juga soal rasa bangga membawa pulang sesuatu yang benar-benar khas.

Satu hal yang kami pegang dari awal:
Orang gak cuma beli rasa, tapi juga pengalaman.
Makanya dari bahan sampai packaging, semua kami pilih dengan sangat sadar.
Tepung terigu kualitas terbaik. Susu kental manis yang gak murahan. Telur segar dari peternakan lokal.
Semua dicampur dengan formula lama—resep keluarga yang udah puluhan tahun—tapi dibungkus dengan desain yang kekinian.
Kami gak asal pilih kemasan.
Kami pikirin detailnya: dari warna, bahan box, sampai pita kecil yang bikin orang merasa “ini oleh-oleh, tapi berasa hadiah”.
Karena memang begitu niat kami:
Setiap kotak Pie Susu Enaaaak adalah cerita.
Dan setiap orang yang membukanya, kami pengen mereka merasa dihargai.
Kita hidup di zaman serba instan, serba cepat.
Tapi justru di tengah itu, produk yang punya cerita dan rasa jadi lebih berharga.
Kami gak buru-buru ekspansi.
Gak asal lempar produk ke supermarket besar.
Kami mulai dari yang kecil: satu toko di Denpasar.
Lalu buka order online, lalu bikin gift box untuk perusahaan-perusahaan yang pengen kirim hampers ke klien.
Tiba-tiba, pesanan datang dari luar negeri.
Orang Jepang yang pernah ke Bali minta dikirimin pie ini lewat temannya.
Orang Belanda yang pernah tinggal di Sanur, pengen ngerasain nostalgia lewat gigitan pie susu kami.
Dan saat itu saya sadar:
Produk lokal bisa punya rasa internasional, asal niatnya utuh.
Kami bukan cuma jual makanan. Kami jual kenangan.
Ada rasa Bali dalam setiap gigitan pie-nya.
Ada aroma liburan, senyum hangat warga lokal, dan sunset di Uluwatu yang diam-diam nyelip di balik karamel pie susu kami.
Kadang customer cerita:
“Mbak, saya kasih Pie Susu Enaaaak ini buat dosen saya di Australia. Dan dia suka banget! Katanya mirip egg tart Hong Kong, tapi lebih lembut dan less sweet.”
Atau ada yang bilang:
“Saya beliin ini buat calon mertua. Alhamdulillah, makin lancar jodohnya.”
Lucu ya? Tapi dari situ saya makin yakin:
Makanan adalah bahasa universal.
Sekarang, tiap kali saya terima order dari luar pulau, bahkan luar negeri, hati saya hangat.
Bukan karena cuan semata (meskipun itu juga penting ya), tapi karena misi kecil saya:
Membawa Bali ke dunia lewat pie mungil yang dibuat dengan sepenuh hati.
Dan kalau kamu baca ini, mungkin kamu juga lagi cari oleh-oleh buat seseorang yang kamu sayangin.
Atau sekadar pengen bawa pulang potongan kecil dari Bali, supaya rasa liburan gak hilang begitu aja saat pesawat take off.
Percayalah, Pie Susu Asli ENAAAK bukan cuma enak di lidah. Tapi juga menghangatkan memori.
Dari Bali, untuk siapa pun yang ingin merasa pulang.
Catatan kecil:
Kalau kamu masih ragu oleh-oleh apa yang pantas untuk orang spesialmu, coba deh satu kotak Pie Susu Enaaaak.
Lalu lihat ekspresi mereka saat buka kotaknya.
Karena kadang, hadiah terbaik itu bukan yang mahal…
Tapi yang terasa personal.
Dan kalau oleh-oleh bisa bicara, saya yakin dia akan bilang:
“Ini dari Bali. Dan saya dibikin dengan cinta.”



