Beberapa tahun terakhir ini saya sering merenung…
Aneh juga ya, gimana sebuah kue kecil bisa mengubah arah hidup banyak orang. Kadang saya duduk di dapur, liatin loyang pie susu yang baru keluar dari oven, terus mikir: sejak kapan aroma mentega dan susu ini bukan cuma soal makanan, tapi juga perjalanan hidup?
Awalnya saya kira bisnis itu hanya soal untung rugi. Soal berapa banyak yang terjual, berapa banyak yang harus diproduksi besok. Tapi makin lama, saya sadar kalau Pie Susu Asli Enaaak ternyata bukan cuma soal rasa manis dan kulit renyahnya. Ada cerita panjang yang nempel di setiap gigitan. Dan entah kenapa, cerita itu yang justru bikin saya makin jatuh hati sama pekerjaan ini.
Dulu, waktu pertama kali bikin pie susu, saya gak punya bayangan produk ini bakal dikenal orang luar Bali. Saya cuma ingin membuat sesuatu yang jujur. Jujur secara rasa, jujur secara proses, jujur secara niat. Resep pertama bahkan bukan resep bisnis. Itu resep rumahan. Resep yang kalau salah takar sedikit aja, hasilnya bisa gagal total. Dan lucunya, dari kegagalan-kegagalan awal itu, justru saya belajar soal konsistensi.

Saya pernah masuk fase di mana setiap hari dapur jadi medan perang. Adonan yang terlalu lembek, kulit yang gosong, vla yang tidak set. Semua itu bikin saya sempat mikir, apa saya salah ambil jalur hidup? Tapi anehnya, setiap kali gagal, saya tetap kembali lagi ke meja adonan. Kayak ada sesuatu di dalam diri yang bilang “ulangi, ulangi, ulangi”.
Dan dari situlah perjalanan ini pelan-pelan jadi nyata.
Lalu datanglah momen pertama kali seorang wisatawan datang ke rumah, ngetuk pintu sambil bilang, “Saya dengar pie susu di sini enak.”
Waktu itu saya bengong. Dari mana dia tahu?
Katanya teman temannya cerita. Dari mulut ke mulut. Tanpa iklan, tanpa strategi besar, tanpa kampanye. Cuma rasa.
Di situ saya mulai sadar…
Kadang yang sederhana justru yang paling nyampe.
Perjalanan Pie Susu Asli ENAAAK bukan perjalanan mulus. Ada masa-masa di mana pesanan begitu banyak sampai saya bingung harus mulai dari mana. Ada juga masa-masa sepi, yang bikin saya bertanya, apa saya harus menyerah? Tapi setiap kali saya mau mundur, saya teringat dapur kecil itu. Terngiang lagi suara loyang jatuh, aroma vla panas, tangan pegal karena nguleni. Dan semua itu malah jadi alasan untuk bertahan.
Karena mungkin ya… kadang kita tidak bertahan karena semuanya mudah. Kita bertahan karena kita tahu persis betapa berat proses yang sudah kita lewati untuk sampai di titik ini.
Ada satu hal yang dulu saya anggap biasa, tapi belakangan justru saya sadari pentingnya.
Pie susu ini mengikat saya dengan banyak orang.
Orang-orang yang cerita kalau mereka bawain pie susu ini untuk keluarga jauh. Orang-orang yang bilang kalau setiap pulang dari Bali, oleh-oleh wajibnya ya ini. Ada yang makan sambil nostalgia, ada yang makan sambil cerita, ada yang makan sambil rindu rumah.
Dari situ saya sadar, pie ini bukan sekadar makanan. Dia semacam jembatan. Jembatan antara Bali dan dunia luar. Jembatan antara rasa dan kenangan. Jembatan antara yang dulu dan yang sekarang.
Dan lucunya, semakin bisnis ini berkembang, hati saya justru makin chill.
Bukan karena tidak peduli. Tapi karena saya mulai belajar bahwa sesuatu yang dibuat dari hati tidak perlu dikejar-kejar. Dia akan menemukan jalannya sendiri. Sama seperti manusia, produk yang punya karakter akan berjalan sejauh kemampuannya.
Ada masa ketika kritik datang. Ada yang bilang manisnya kurang, ada yang bilang kulitnya terlalu tipis, ada yang bandingin sama merek lain. Dulu saya sensitif banget. Kayak semuanya harus sempurna. Tapi makin lama, saya belajar sesuatu:
Tidak semua komentar butuh reaksi.
Tidak semua pendapat harus diikuti.
Yang penting, saya tetap jujur sama rasa yang saya percaya.
Dan sejak itu, segala sesuatu terasa lebih tenang.
Saya mulai sadar kalau perjalanan Pie Susu Asli ENAAAK ini juga perjalanan saya sebagai manusia. Semakin matang resepnya, semakin matang juga cara saya melihat hidup. Saya tidak lagi terjebak dalam dramanya. Kalau ada masalah, saya tanggapi secukupnya. Kalau ada pujian, saya terima seperlunya.
Sama seperti pie susu yang keluar dari oven: ada yang mulus, ada yang retak sedikit, ada yang warnanya lebih coklat. Tapi semuanya tetap punya rasa. Dan itu cukup.
Sekarang, ketika produk ini sudah dikenal banyak orang, saya sering ditanya apa rahasia suksesnya. Jujur, saya tidak punya jawaban muluk-muluk. Yang saya tahu, semua ini lahir dari proses panjang yang tidak instan. Dari dapur kecil yang panas, dari trial and error, dari rasa yang terjaga, dari konsistensi yang diam-diam membentuk karakter.
Dan mungkin ya… seperti pie yang dipanggang perlahan, hidup juga begitu. Hasil terbaik selalu datang dari proses yang sabar, hangat, dan tidak tergesa-gesa.
Karena pada akhirnya, Pie Susu Asli ENAAAK bukan hanya oleh-oleh khas Bali.
Ia adalah cerita.
Cerita perjalanan dari tanah Bali sampai ke tangan siapa pun yang mencicipinya.
Cerita tentang ketekunan.
Cerita tentang rasa yang jujur.
Cerita tentang sesuatu yang kecil… tapi berdampak besar.
Dan setiap kali saya melihat satu loyang lagi keluar dari oven, saya selalu berpikir:
Ternyata dari sebuah pie kecil, hidup bisa buka banyak jalan.
Pelan-pelan.
Tanpa drama.
Tanpa gegas.
Seperti perjalanan Bali sendiri.
Kalem, hangat, dan tetap enak dinikmati.



