Beberapa bulan terakhir ini, gue sering kepikiran satu hal yang agak lucu.
Kenapa ya, tiap kali lihat box Pie Susu Asli Enaaak numpuk siap kirim, hati gue tuh kayak… adem. Tenang. Kayak lihat anak sendiri mau merantau. Padahal ya itu cuma kue. Tapi entah kenapa, perjalanan Pie Susu ini rasanya mirip perjalanan hidup gue sendiri.
Awalnya gue kira, mungkin gue mulai sentimentil karena usia.
Tapi pas gue renungin lagi, ternyata bukan itu.
Ada sesuatu yang berubah, bukan cuma dari bisnis, tapi dari cara gue ngeliat dunia:
Bahwa hal sederhana pun, kalau dibuat dari hati, bisa punya perjalanan yang nggak sederhana sama sekali.
Awal yang Nggak Dramatis, Tapi Bikin Nagih
Waktu pertama kali bikin Pie Susu Asli Enaaak, jujur aja, gue nggak mikir jauh.
Nggak mikir ekspor, nggak mikir pasar internasional, apalagi jadi oleh-oleh wajib orang se-Indonesia kalau ke Bali.
Yang gue pikir cuma satu: kue ini harus enak… beneran enak… enaaaak.
Tapi ternyata, hidup suka bercanda.
Hari demi hari, orang antre.
Minggu demi minggu, ada yang balik lagi cuma buat beli lima kotak sekaligus.
Bulan ke bulan, koper-koper orang penuh sama Pie Susu Enaaak, sampai ada yang bela-belain beli bagasi ekstra cuma buat bawa pulang oleh-oleh.
Dan lucunya, semua itu terjadi tanpa strategi marketing yang ribet.
Karena rasa memang selalu punya cara buat cari jalan pulang ke lidah orang.
Momen Ketika Bali Terasa Terlalu Kecil
Ada satu masa yang bikin gue berhenti sejenak.
Waktu itu, ada seorang pelanggan, bule, ngotot minta dikirim langsung ke negaranya.
Katanya, tiap gigitan Pie Susu Enaaak bikin dia “homesick” sama Bali.
Gue sempet ketawa, “Lah kamu kan bukan orang Bali?”
Dia jawab, “I know… but this pie tastes like a memory I don’t want to lose.”
Dan disitu gue diam.
Karena ternyata, kadang orang bisa merindukan sesuatu yang bahkan bukan miliknya.
Sesederhana itu, tapi ngena banget.
Dari situ lah, gue mulai sadar…
Mungkin Bali memang rumahnya Pie Susu Enaaak.
Tapi perjalanannya?
Siapa tau memang ditakdirkan buat menjelajah dunia.

Ketika Ekspor Pertama Terkirim, Gue Ngerasa…
Aneh. Jujur.
Harusnya kan bangga ya?
Produk lokal, buatan tangan-tangan orang Bali, akhirnya menembus pasar internasional.
Tapi saat truk bawa kontainer itu pergi, gue cuma berdiri, ngeliatin dari jauh… dan hati gue flat. Tenang. Nggak dramatis.
Awalnya gue pikir, jangan-jangan gue kehilangan rasa?
Jangan-jangan gue nggak bisa excited lagi?
Tapi setelah gue pikir-pikir, mungkin bukan itu.
Mungkin karena gue udah ngeliat prosesnya dari nol.
Dari adonan pertama yang gagal.
Dari oven yang gosong.
Dari percobaan rasa yang nggak karuan.
Dari lembur yang bikin mata panda.
Dari segala jatuh bangunnya.
Jadi pas akhirnya berhasil menembus luar negeri… gue cuma merasa:
“Oh… jadi begini rasanya, kalau sesuatu akhirnya ketemu takdirnya.”
Tenang.
Nggak meledak-ledak.
Tapi ngena.
Rahasia yang Nggak Pernah Berubah: Rasa Adalah Bahasa yang Dipahami Semua Orang
Gue pernah ngobrol dengan salah satu pelanggan luar negeri.
Dia bilang gini:
“You know what makes your pie special? It tastes humble.”
Dan gue mikir lama tentang kata humble itu.
Karena Pie Susu Enaaak nggak pernah mencoba jadi yang paling mewah, paling mahal, paling fancy.
Dia cuma mau jadi… diri sendiri.
Renya pas.
Manisnya lembut.
Susunya nge-blend.
Kulitnya tipis tapi berkarakter.
Dan mungkin itu kuncinya:
Rasa yang jujur, selalu menemukan tempat.
Di lidah orang Jepang.
Di meja teh orang Australia.
Di pesta keluarga orang Singapura.
Di kapal kargo belasan negara.
Pie Susu Enaaak bukan cuma kue, tapi semacam “postcard rasa” dari Bali.
Apa yang Bikin Gue Bangga Sekarang?
Bukan karena ekspornya.
Bukan karena penjualannya.
Bukan karena tokonya rame.
Tapi karena sekarang gue ngerti…
Bahwa sesuatu yang dibuat dari hati nggak perlu teriak-teriak buat dilihat dunia.
Dia akan berjalan sendiri.
Perlahan.
Diam.
Tapi pasti.
Kayak Pie Susu Asli Enaaak.
Dari dapur kecil di Bali… sampai dapur rumah orang di ujung dunia.
Dan gue rasa, itu juga pelajaran penting buat gue pribadi:
Kadang kita nggak sadar kalau hal yang kita kerjakan rutin, penuh ketekunan, tanpa drama…
justru membawa perubahan paling besar.
Jadi, Apa Pesan yang Mau Gue Sampaikan?
Kalau lo pernah beli Pie Susu Asli Enaaak sebagai oleh-oleh, lo mungkin ngerasa cuma beli kue.
Tapi sebenernya, lo lagi bawa pulang sepotong perjalanan panjang yang nggak pernah berhenti.
Dan sekarang, perjalanan itu bukan cuma dari Bali ke Jakarta.
Bukan cuma dari Denpasar ke Surabaya.
Tapi dari Bali… ke dunia.
Kalem, nggak ribut, nggak heboh.
Kayak orang yang udah selesai dengan lukanya sendiri.
Tapi tetap punya ruang luas buat membahagiakan orang lain.
Akhir Kata
Pie Susu Asli Enaaak mungkin kecil.
Tapi perjalanannya panjang.
Dan kalau hari ini lo makan satu gigitan Pie Susu itu…
Siapa tau, lo juga lagi ngerasain apa yang dunia rasakan dari dulu:
Bahwa rasa yang dibuat dengan tulus selalu menemukan jalannya.
Dari Bali, untuk dunia.



