Beberapa waktu lalu gw diajak temen ke sebuah galeri di daerah Ubud. Katanya, ada pameran seni unik yang nggabungin dua hal yang jarang banget lo temuin bareng: karya visual dan… pie susu.
Gw langsung ngakak waktu denger.
“Pie susu? Di galeri seni? Serius, nih?”
Tapi karena penasaran, gw ikut aja. Dan ternyata… ya ampun, semua candaan gw langsung mental di pintu masuk.
Galeri itu wangi.
Bukan wangi cat minyak atau aroma kayu khas ruang pamer. Tapi wangi mentega, gula karamel, dan susu panggang yang kayaknya keluar dari surga dapur ibu-ibu Bali yang lagi masak sambil nyanyi pelan.
Di tengah ruangan, berdiri meja kayu panjang, di atasnya deretan Pie Susu Asli Enaaak—setiap potong disajikan kayak karya seni. Ada yang ditata di atas daun lontar, ada yang disusun melingkar kayak mandala, dan ada juga yang difoto hitam-putih terus dipajang di dinding.
Bentuknya sederhana, tapi ada sesuatu yang… dalam.
Gw jalan pelan, liat satu-satu karya yang dipamerin.
Di pojok ruangan, ada ilustrasi tangan yang menggambar pie enaaak dengan detail kayak menggambar wajah manusia. Di bawahnya tertulis:
“Camilan adalah bahasa rasa yang diciptakan oleh tangan, tapi diterjemahkan oleh hati.”
Gw diem cukup lama di situ.
Karena ternyata, ada benarnya juga. Selama ini kita makan pie susu cuma karena enak. Karena manisnya pas. Karena lembutnya nyangkut di lidah. Tapi di balik itu, ada perjalanan panjang: tepung yang diayak dengan sabar, mentega yang diaduk tangan manusia, dan susu kental manis yang gak sekadar bahan—tapi ingatan masa kecil.
Gw jadi inget waktu pertama kali nyicip Pie Susu Asli Enaaak dulu, di Denpasar.
Waktu itu bukan karena lapar. Tapi karena aroma yang bikin langkah gw berhenti. Toko kecil, tapi rame banget. Semua orang keluar sambil senyum.
Dan lo tau kan, kalau ada orang Bali yang senyum sambil megang kotak pie susu, berarti itu bukan cuma oleh-oleh. Itu semacam ritual.
Makanya waktu gw liat Pie Susu Asli Enaaak dipajang di galeri, gw ngerti maksud senimannya.
Mereka bukan mau bikin makanan ini jadi mewah. Tapi mereka pengin nunjukin bahwa kadang, hal paling “sederhana” justru yang paling ngena di jiwa.

Salah satu seniman, namanya Wayan, sempet ngobrol sama gw di sela pameran. Dia bilang,
“Orang datang ke Bali cari pantai, cari spa, cari yoga. Tapi Bali itu bukan cuma itu. Bali itu tentang rasa. Tentang tangan-tangan yang sabar bikin sesuatu dengan cinta. Termasuk pie susu.”
Gw ngangguk aja.
Dan entah kenapa, waktu gw liat tumpukan pie di sana, gw ngerasa kayak liat potret hidup sendiri.
Kadang kita mikir kebahagiaan itu ada di hal besar—liburan mewah, pencapaian besar, atau uang banyak. Padahal, kebahagiaan bisa datang dari sesuatu yang kecil, tapi dibuat dengan tulus. Kayak kue mungil itu.
Di ruang tengah galeri, ada instalasi yang paling bikin gw tertegun.
Sebuah meja bundar dengan ribuan potongan kecil kertas, masing-masing bertuliskan “rasa.” Ada yang nulis “manis kayak masa kecil,” ada yang nulis “gurih kayak doa ibu,” dan ada juga “lembut kayak kenangan pertama kali ke Bali.”
Semua rasa itu disusun jadi bentuk besar pie susu.
Karya itu dikasih judul “ENAAAK”—dan ya, hurufnya ditulis pakai huruf kapital semua.
Gw tanya ke senimannya, kenapa namanya harus “ENAAAK”?
Dia jawab pelan,
“Karena kalau orang udah ngerasain sesuatu yang bener-bener enak, mereka gak butuh kata lain. Satu kata itu cukup.”
Dan di titik itu, gw sadar…
Pie Susu Asli Enaaak bukan cuma oleh-oleh. Dia udah jadi simbol tentang bagaimana Bali ngerawat rasa.
Rasa manis, lembut, dan tulus—yang lahir bukan dari resep mahal, tapi dari kebiasaan turun-temurun orang Bali yang selalu bilang,
“Buatlah sesuatu dengan hati, biar yang makan juga ikut bahagia.”
Begitu keluar dari galeri, gw beli sekotak pie susu di meja depan. Gak karena lapar, tapi karena pengin bawa pulang rasa yang tadi gw liat di balik karya seni.
Di jalan pulang, gw mikir,
Ternyata seni itu gak harus di dinding.
Seni juga bisa ada di dapur. Di loyang. Di aroma yang bikin lo tenang bahkan sebelum lo makan.
Dan mungkin, itu alasan kenapa Pie Susu Asli Enaaak selalu punya tempat di hati orang-orang yang pernah ke Bali. Karena tiap gigitannya adalah pameran kecil—tentang sabar, cinta, dan rasa manis yang gak berlebihan.
Kalau lo tanya sekarang, apa hal paling berkesan dari pameran itu?
Jawaban gw sederhana: bukan lukisan, bukan patung, tapi momen ketika satu potong pie susu bisa nyentuh sisi lembut dalam diri lo yang udah lama gak ngerasa apa-apa.
Sebuah rasa yang gak bisa dijelaskan pakai teori seni, tapi bisa lo pahami kalau lo izinkan diri buat… ngerasain.
Dan di situ gw ngerti, mungkin karya terbaik manusia bukan yang digantung di galeri,
tapi yang bisa bikin orang lain tersenyum tanpa sadar.
Kayak sepotong kecil Pie Susu Asli Enaaak.



