Beberapa tahun belakangan ini, gue mulai sadar…
Ada satu pertanyaan aneh tapi konsisten gue denger dari turis yang mampir ke toko kami di Bali:
“Is this THE Pie Susu ENAAAK?”
Lalu mereka lanjut cerita, katanya ini oleh-oleh wajib tiap kali ada temen ke Bali. Lucu sih, pie enaaak yang awalnya cuma dijual buat tetangga komplek, sekarang jadi buah tangan wajib orang Jepang sampai Kanada.
Awalnya, gue pikir ini cuma kebetulan.
Tapi makin lama, makin banyak yang datang… dari Malaysia, Australia, Korea, bahkan Rusia.
Lalu suatu hari, seorang pelanggan asal Belanda datang dan bilang,
“Saya datang ke Bali bukan cuma buat pantai atau yoga. Tapi juga buat beli Pie Susu Enaaaak buat ibu saya di Rotterdam.”
Gue cuma bisa senyum sambil mikir…
Gila, pie susu bisa sejauh itu ya ceritanya.
Cerita Dimulai dari Dapur Kecil
Waktu pertama kali bikin Pie Susu Enaaaak, niatnya gak muluk.
Cuma pengen bikin pie susu yang lumer tapi gak bikin eneg. Yang manisnya pas, kulitnya renyah, dan bisa tahan di perjalanan pulang ke rumah.
Tiap loyang pertama tuh kayak eksperimen rasa.
Kadang gosong. Kadang kelembekan.
Tapi tiap kali satu loyang habis dimakan anak tetangga atau ibu-ibu arisan, gue dapet satu validasi kecil:
“Ini enak ya… besok bisa pesen lagi gak?”
Sampai akhirnya, satu orang traveler Jepang yang ikut yoga di Ubud mampir, coba satu, terus beli sepuluh. Katanya mau dibawa pulang buat keluarganya.

Dari situ, cerita Pie Susu Enaaaak pelan-pelan nyebar.
Bukan karena iklan, bukan karena endorsement. Tapi karena lidah-lidah puas yang gak bisa bohong.
Kenapa Traveler Jatuh Cinta?
Gue pernah duduk bareng seorang pelanggan dari Singapura yang beli tiga dus pie buat dibawa pulang.
Gue tanya, “Kenapa suka banget pie ini?”
Jawabannya sederhana, tapi ngena:
“Karena saya merasa kayak bawa pulang Bali ke rumah.”
Dan gue jadi mikir… mungkin rasa itu gak datang dari sekadar adonan atau mentega atau susu.
Mungkin ada hal lain yang ikut masuk ke setiap pie yang kami buat.
Kayak waktu adonan dicetak satu per satu pakai tangan, waktu kue dikeluarin dari oven dengan senyum karena wanginya nendang banget, atau waktu kami bungkus satu-satu dengan rapi supaya gak rusak waktu dibawa naik pesawat.
Mungkin pie-nya bukan cuma soal rasa, tapi juga tentang niat.
10 Negara yang Jadi Langganan
Gak nyangka, sekarang di daftar pengiriman kita, ada pelanggan dari:
- Jepang
- Malaysia
- Korea Selatan
- Australia
- Singapura
- Belanda
- Jerman
- Kanada
- Amerika Serikat
- Rusia
Kadang mereka pesen lewat temennya yang lagi liburan. Kadang nitip lewat jasa titip. Ada juga yang sampe kirim email pribadi buat nanya:
“Apa bisa kirim frozen pack ke Amsterdam?”
(Kami belum sanggup ke sana, tapi sumpah, itu bikin semangat ngembangin bisnis naik 200%.)
Pelajaran dari Sebuah Pie
Kalau dipikir-pikir, perjalanan Pie Susu Enaaaak ini gak pernah direncanain dari awal.
Gak ada blueprint sukses. Gak ada marketing agency mahal.
Yang ada cuma satu dapur kecil, satu resep penuh trial & error, dan satu keyakinan bahwa yang dibuat dengan hati gak akan pernah sia-sia.
Gue jadi sadar, kadang yang paling “enaaaak” dalam hidup bukan yang instan.
Tapi yang dibikin pelan-pelan, disayangin, dan dilakuin terus-menerus dengan cinta.
Kayak pie ini. Kayak mimpi kecil yang gak pernah diremehkan.
Dari Traveler untuk Traveler
Kalau lo mampir ke Bali, entah buat healing, surfing, atau cuma pengen kabur dari kerjaan, dan lo bingung oleh-oleh apa yang gak pasaran…
Pie Susu Enaaaak selalu nungguin lo.
Dari kami yang bikin satu per satu dengan tangan, buat lo yang mungkin cuma sempat sebentar di pulau ini, tapi pengen pulang bawa rasa yang gak bisa dibeli di bandara.
Karena kadang, oleh-oleh terbaik itu bukan yang paling mahal,
Tapi yang paling bisa bikin lo bilang di rumah:
“Eh, lo harus coba ini. Enaaaak banget. Beneran.”
Dan kalau lo bisa bikin orang rumah senyum cuma dari sepotong pie,
Maka perjalanan lo ke Bali gak sia-sia.
Penutup
Kadang gue masih bengong sendiri waktu liat dus-dus pie numpuk buat dikirim.
Dari dapur kecil, sekarang bisa nyampe ke tangan ibu-ibu di Osaka, anak muda di Sydney, sampe nenek-nenek di Leiden.
Tapi satu hal yang gak akan pernah berubah:
Kami tetap bikin Pie Susu Enaaaak dengan cara yang sama—dari hati, untuk rasa yang tulus.
Dan kalau suatu hari lo mampir ke toko kecil kami di Bali,
Jangan lupa bilang:
“Saya mau pie yang enaAaAaAak banget itu ya.”
Biar kami jawab:
“Siap, satu dus buat dibawa pulang dengan cinta.”



